AMBON, SA -
Kasus kesurupan yang menimpa siswa SMA Lentera, yang dulunya dikenal dengan nama SMA Rehoboth minggu lalu sepertinya tidak akan berakhir begitu saja.
Pasalnya, pasca pergumulan yang dilakukan Guru serta para Pelayan Gereja dan Pendeta, Selasa (18/10), belum bisa mengakhiri kejadian serupa.
Bahkan pada dua hari kemudian, kajadian yang sama masih saja terualng, dan yang menghebohkan lagi, arwah yang merasuki para siswa mengancam tidak akan menghentikan aksinya.
Arwah yang merasuki para siswa tersebut belakangan diketahui bernama Karani dan Arini, kedua arwah yang menurut pengakuan adalah mantan siswa di SMA Rehoboth itu, mengancam tidak akan menghentikan aksi mereka, jika perlu sampai ada korban.
Pengakuan ini, didapat saat hari Jumat pekan kemarin, dimana dua orang siswa dalam satu kelas secara bersamaan mengalami kesurupan, saat itulah, kedua arwah yang merasuki siswa mengungkapkan alasan mereka merasuki para siswa.
Dari cerita yang disampaikan sejumlah siswa kepada wartawan Koran ini, mereka menyatakan, kalau kedua arwah tersebut ngotot tidak akan menghentikan aksi mereka.
“Kedua arwah tersebut bernama Karani dan Arini, mereka adalah mantan siswa SMA Rehoboth yang sudah meninggal. Keduanya mengaku merasuki siswa dikarenakan merasa kecewa atas pergantian yayasan YPPK dengan Lentera Harapan yang saat ini menangani lembaga pendidikan itu. Mereka mengancam tidak akan menghentikan aksinya jika yayasan tidak dikembalikan, dan nama sekolah Rehoboth juga tidak dikembalikan, dan yang lebih heboh lagi, mereka mengaku aksi ini akan berlangsung sampai ada korban”, tutur para siswa.
Akibat aksi ini, sejumlah siswa saat ini merasa ketakutan, terlebih saat pengakuan yang dilontarkan kedua arwah itu.
Seperti diketahui, sebelumnya lembaga pendidikan itu lebih dikenal dengan kompleks pendidikan Rehoboth yang dikelola oleh yayasan YPPK, namun memasuki tahun pelajaran 2011-2012, lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat jenjang pendidikan SD-SMA itu dialihkan ke Yayasan Lentera Harapan, sehingga Yayasan YPPK tidak lagi berhak atas lembaga pendidikan itu, entah apa alasannya.
Bahkan, saat serah terima pengelola kompleks pendidikan itu dari pihak yayasan YPPK kepada yayasan Lentera Harapan, sempat terjadi kegaduhan antara para Guru yang sudah lama mengabdikan diri di sekolah tersebut.
Aksi keributan ini dikarenakan, dari sebagian besar guru yang sudah bertahun tahun mengabdi di lembaga pendidikan itu harus terdepak begitu saja, karena yayasan yang baru memiliki sejumlah guru yang rata rata berasal dari luar Ambon.
Sementara itu, Selasa (18/10), sekitar pukul 11:30 WIT, dua wartawan Koran ini yang berkunjung ke kompleks pendidikan Lentera, tidak mendapati satupun guru, hanya beberapa murid yang sedang berlatih dance (disco—red) di salah satu ruang kelas milik SMA.
Saat ditanya, para siswa tersebut seperti enggan berkomentar banyak soal kejadian yang sebenarnya, hanya satu siswa saja yang berkomentar itupun dibatasi teman temannya.
Tak puas dengan apa yang di dapat, dua wartawan Koran ini mencoba mengunjungi rumah penjaga kompleks pendidikan itu, belakangan dikathui, marga penjaga sekolah itu Lalihatu, yang berasal dari Negeri Alang.
Sayangnya, penjaga sekolah yang dituju tak berada di rumahnya, hanya salah satu anaknya yang duduk di bangku kuliah, membenarkan kalau usai upacara bendera, Senin (17/10), ada sejumlah siswa yang kerasukan roh halus, sayangnya, dirinya tidak begitu mengetahui kejadian lanjutan hari itu karena harus berangkat kuliah.
Dari pengakuan anak penjaga sekolah itu, dirinya pernah mengalami hal misteri di sekitar kompleks pendidikan tersebut. Diceritakan, saat itu dirinya pulang ke rumah yang terletak di dalam kompleks pendidikan tersebut sekitar pukul 03:00 WIT.
Saat memasuki pintu utama, dirinya sempat melihat sesosok bayangan manusia yang sedang duduk menyendiri ditengah kegelapan, lantas bayangan itu disapa dirinya.
“Satu kali beta pulang sekitar jam tiga amper siang, waktu masuk pintu gerbang utama, beta lia ada orang dudu sandiri di pojok ruang sekolah. Beta tagor dia, slamat malam, tapi dia seng balas. Beta jalan dekati dia dan tagor slamat malam, tapi seng suara. Karena su rasa laeng beta langsung bajalang ka rumah, tapi beta seng tau kalo dia itu laki atau perempuan, karena bentuk wajahnya seng jelas, akang terlihat samar, seng tau dia rambu panjang atau pende”, tutur anak penjaga sekolah tadi.
Kejadian ini tentunya menjadi pukulan bagi pihak pihak yang saat pergantian Yayasan YPPK ke Yayasan Lentera Harapan, karena secara iman Kristen, sesuatu yang didirikan sejak awal dengan berlandaskan pergumulan tidak bisa dirubah begitu saja.
Apalagi, sebelum pergantian Yayasan itu, begitu banyak guru yang telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk kemajuan dan kecerdasan generasi penerus bangsa, sayangnya, mereka didepak tanpa alasan jelas, bahkan hinga kini masih ada mantan guru dari sekolah yang lama belum mendapat penempatan tugas yang jelas. (IA_00)
Kasus kesurupan yang menimpa siswa SMA Lentera, yang dulunya dikenal dengan nama SMA Rehoboth minggu lalu sepertinya tidak akan berakhir begitu saja.
Pasalnya, pasca pergumulan yang dilakukan Guru serta para Pelayan Gereja dan Pendeta, Selasa (18/10), belum bisa mengakhiri kejadian serupa.
Bahkan pada dua hari kemudian, kajadian yang sama masih saja terualng, dan yang menghebohkan lagi, arwah yang merasuki para siswa mengancam tidak akan menghentikan aksinya.
Arwah yang merasuki para siswa tersebut belakangan diketahui bernama Karani dan Arini, kedua arwah yang menurut pengakuan adalah mantan siswa di SMA Rehoboth itu, mengancam tidak akan menghentikan aksi mereka, jika perlu sampai ada korban.
Pengakuan ini, didapat saat hari Jumat pekan kemarin, dimana dua orang siswa dalam satu kelas secara bersamaan mengalami kesurupan, saat itulah, kedua arwah yang merasuki siswa mengungkapkan alasan mereka merasuki para siswa.
Dari cerita yang disampaikan sejumlah siswa kepada wartawan Koran ini, mereka menyatakan, kalau kedua arwah tersebut ngotot tidak akan menghentikan aksi mereka.
“Kedua arwah tersebut bernama Karani dan Arini, mereka adalah mantan siswa SMA Rehoboth yang sudah meninggal. Keduanya mengaku merasuki siswa dikarenakan merasa kecewa atas pergantian yayasan YPPK dengan Lentera Harapan yang saat ini menangani lembaga pendidikan itu. Mereka mengancam tidak akan menghentikan aksinya jika yayasan tidak dikembalikan, dan nama sekolah Rehoboth juga tidak dikembalikan, dan yang lebih heboh lagi, mereka mengaku aksi ini akan berlangsung sampai ada korban”, tutur para siswa.
Akibat aksi ini, sejumlah siswa saat ini merasa ketakutan, terlebih saat pengakuan yang dilontarkan kedua arwah itu.
Seperti diketahui, sebelumnya lembaga pendidikan itu lebih dikenal dengan kompleks pendidikan Rehoboth yang dikelola oleh yayasan YPPK, namun memasuki tahun pelajaran 2011-2012, lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat jenjang pendidikan SD-SMA itu dialihkan ke Yayasan Lentera Harapan, sehingga Yayasan YPPK tidak lagi berhak atas lembaga pendidikan itu, entah apa alasannya.
Bahkan, saat serah terima pengelola kompleks pendidikan itu dari pihak yayasan YPPK kepada yayasan Lentera Harapan, sempat terjadi kegaduhan antara para Guru yang sudah lama mengabdikan diri di sekolah tersebut.
Aksi keributan ini dikarenakan, dari sebagian besar guru yang sudah bertahun tahun mengabdi di lembaga pendidikan itu harus terdepak begitu saja, karena yayasan yang baru memiliki sejumlah guru yang rata rata berasal dari luar Ambon.
Sementara itu, Selasa (18/10), sekitar pukul 11:30 WIT, dua wartawan Koran ini yang berkunjung ke kompleks pendidikan Lentera, tidak mendapati satupun guru, hanya beberapa murid yang sedang berlatih dance (disco—red) di salah satu ruang kelas milik SMA.
Saat ditanya, para siswa tersebut seperti enggan berkomentar banyak soal kejadian yang sebenarnya, hanya satu siswa saja yang berkomentar itupun dibatasi teman temannya.
Tak puas dengan apa yang di dapat, dua wartawan Koran ini mencoba mengunjungi rumah penjaga kompleks pendidikan itu, belakangan dikathui, marga penjaga sekolah itu Lalihatu, yang berasal dari Negeri Alang.
Sayangnya, penjaga sekolah yang dituju tak berada di rumahnya, hanya salah satu anaknya yang duduk di bangku kuliah, membenarkan kalau usai upacara bendera, Senin (17/10), ada sejumlah siswa yang kerasukan roh halus, sayangnya, dirinya tidak begitu mengetahui kejadian lanjutan hari itu karena harus berangkat kuliah.
Dari pengakuan anak penjaga sekolah itu, dirinya pernah mengalami hal misteri di sekitar kompleks pendidikan tersebut. Diceritakan, saat itu dirinya pulang ke rumah yang terletak di dalam kompleks pendidikan tersebut sekitar pukul 03:00 WIT.
Saat memasuki pintu utama, dirinya sempat melihat sesosok bayangan manusia yang sedang duduk menyendiri ditengah kegelapan, lantas bayangan itu disapa dirinya.
“Satu kali beta pulang sekitar jam tiga amper siang, waktu masuk pintu gerbang utama, beta lia ada orang dudu sandiri di pojok ruang sekolah. Beta tagor dia, slamat malam, tapi dia seng balas. Beta jalan dekati dia dan tagor slamat malam, tapi seng suara. Karena su rasa laeng beta langsung bajalang ka rumah, tapi beta seng tau kalo dia itu laki atau perempuan, karena bentuk wajahnya seng jelas, akang terlihat samar, seng tau dia rambu panjang atau pende”, tutur anak penjaga sekolah tadi.
Kejadian ini tentunya menjadi pukulan bagi pihak pihak yang saat pergantian Yayasan YPPK ke Yayasan Lentera Harapan, karena secara iman Kristen, sesuatu yang didirikan sejak awal dengan berlandaskan pergumulan tidak bisa dirubah begitu saja.
Apalagi, sebelum pergantian Yayasan itu, begitu banyak guru yang telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk kemajuan dan kecerdasan generasi penerus bangsa, sayangnya, mereka didepak tanpa alasan jelas, bahkan hinga kini masih ada mantan guru dari sekolah yang lama belum mendapat penempatan tugas yang jelas. (IA_00)
18.55 | 0
komentar